Penginjilan Orang Mati: Alkitabiahkah?
PENDAHULUAN
Dewasa ini, gereja Tuhan menghadapi
tantangan yang serius tentang munculnya pengajaran-pengajaran yang menyimpang
dari kebenaran firman Tuhan. Salah satu pengajaran yang sempat populer adalah
pelayanan “Dunia Orang Mati” (DOM) yang dipopulerkan melalui seminar, Kebaktian
Kebangunan Rohani (KKR), internet, bahkan sudah diterbitkan dalam bentuk buku
yang berjudul “Dunia Orang Mati” dan “Barang-barang Tumpas.” Pada intinya,
ajaran mengenai dunia orang mati mencakup tiga hal yaitu ajaran ini mempercayai
bahwa arwah/roh orang mati dapat dihubungi; arwah/roh orang mati dapat masuk ke
dalam tubuh manusia yang hidup; dan roh orang yang mati dapat diinjili sehingga
masuk kerajaan Sorga.[1]
Penyebab munculnya pengajaran dunia
orang mati adalah berkenaan dengan hermeneutika beberapa ayat Alkitab yang
tidak sehat dan benar, seperti Ulangan 18:9-14, Lukas 16:19-31, dan 1 Petrus
3:18:20. Oleh sebab itu, penulis akan melakukan studi eksegetis terhadap salah
satu ayat yang paling fundamen yang dipakai oleh hamba Tuhan pengajar dunia
orang mati, yaitu 1 Petrus 3:19. Surat
1 Petrus mendapatkan restu keotentikannya sangat awal sekali dari Eusebius,
Irenaeus, Tertullian, dan Bapak-bapak gereja lainnya.[2]
Bagian 1 Petrus 3:19 sekilas terlihat
sebagai bagian kontradiktif dengan beberapa bagian lain dalam Alkitab yang berbunyi: “dan di dalam Roh itu juga Ia pergi
memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara.” Charles F. Pfeiffer dan Everett F.
Harrison mengakui bahwa ayat merupakan sebuah pengalihan yang sulit dipahami.[3]
Seorang pakar bernama Lange beranggapan bahwa ayat ini
mengungkapkan bahwa Kristus, sesudah disalibkan, turun ke dunia orang mati dan
memberitakan awal dari kasih karunia kepada roh-roh yang dipenjara di.[4]
Beliau mengemukakan bahwa tidak diragukan lagi bahwa ketika itu banyak yang
diselamatkan karena memperoleh kesempatan kedua tersebut. Pandangan ini
tentunya menimbulkan pertanyaan yang sulit untuk dijawab yaitu mengapa dari
semua orang yang belum percaya, hanya orang-orang kuno itu saja yang memperoleh
hak ini? Apakah arti 1 Petrus 3:19 yang mengatakan bahwa Kristus memberitakan
Injil kepada roh-roh yang terpenjara di dunia orang mati? Apakah Dia
memberitakan Injil kepada mereka dan dengan demikian memberi mereka kesempatan
untuk diselamatkan, bahkan sesudah mereka mati?
Tujuan penulisan paper ini adalah untuk menyajikan studi
eksegetis dari surat 1 Petrus 3:19 tersebut berdasarkan eksegesa yang benar sehingga didapatkan pemahaman yang
benar tentang pesan teologis dari
ayat firman Tuhan tersebut.
STUDI EKSEGETIS 1 PETRUS 3:19
A.
Perbandingan Teks
Sebelum
melakukan studi eksegetis mengenai ayat ini, penulis akan menampilkan beberapa
teks dengan terjemahan yang berbeda-beda sebagai perbandingan studi eksegetis
nantinya. Perhatikan beberapa teks terjemahan 1 Petrus 3:19 tersebut:
ITB (Indonesia Terjemahan Baru)
“dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan
Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara,”
KJV (King
James Version)
“By which also he went and preached unto the spirits in prison;”
NAS (New
American Standard Bible)
“in which also He went and made proclamation to the spirits now in prison,”
BGT (Bibleworks
Greek LXX)
ἐν ᾧ καὶ τοῖς ἐν φυλακῇ πνεύμασιν πορευθεὶς ἐκήρυξεν,
BYZ
ἐν ᾧ
καὶ τοῖς ἐν φυλακῇ πνεύμασιν πορευθεὶς ἐκήρυξεν,
B.
Latar Belakang Surat 1
Petrus
1)
Penulis dan Penerima Surat
Surat ini merupakan yang pertama dari dua surat Perjanjiab Baru yang ditulis oleh
rasul Petrus. Petrus mengakui bahwa surat ini ditulis dengan bantuan Silas
sebagai juru tulisnya (1 Petrus 5:12). Nada dan isi
surat ini cocok dengan apa yang kita ketahui tentang Simon Petrus.
Persekutuannya yang akrab dengan Tuhan Yesus selama bertahun-tahun melandasi
ingatannya kembali akan kematian dan kebangkitan Yesus
(1 Petrus 1:3; 21; 3:21). Petrus mengalamatkan surat ini kepada “orang-orang
pendatang yang tersebar” di seluruh provinsi Asis Kecil. Mungkin Petrus menulis
surat ini sebagai tanggapan terhadap laporan dari orang percaya di Asia Kecil
tentang peningkatan perlawanan (4:12-16) yang belum didukung resmi oleh
pemerintah (2:12-17).
2)
Tujuan Penulisan Surat
Tujuan penulisan surat ini adalah untuk memberikan kepada
orang percaya pandangan yang ilahi dan abadi bagi kehidupan di bumi dan untuk
memberikan bimbingan praktis kepada mereka yang mulai mengalami penderitaan
yang berat sebagai orang Kristen di dalam masyarakat kafir.[5]
3)
Tema Surat
Tema surat 1 Petrus adalah menderita bagi Kristus.
C.
Studi
Eksegetis
Pada bagian ini, penulis akan melakukan analisis sintaktikal dan gramatikal terhadap kata “memberitakan” sebagaimana yang ditulis dalam
Alkitab Terjemahan Baru. Petrus menggunakan
kata “memberitakan” yang dalam terjemahan KJV, yaitu kata “preached” sedangkan dalam
terjemahan NAS dituliskan “made proclaim”.
Kata “proclaim” sendiri digunakan
untuk menyatakan pemberitahuan atau proklamasi Injil atau kabar baik.[6]
Kristus tidak pernah memberitakan Injil kepada orang yang mati.[7]
Dalam terjemahan NAS, akan terlihat bahwa kata kerja yang
diterjemahkan menjadi “preached”
(“memberitakan”) dalam KJV bukanlah kata Yunani euangelizomai (“memberitakan atau menceritakan kabar baik”), yang
tentu berarti bahwa sesudah disalibkan Kristus memang sungguh-sungguh
memberitakan kabar keselamatan kepada jiwa-jiwa yang terhilang di dunia orang
mati; melainkan kata ekeryxen, dari
kata kerysso (“menyatakan pesan”,
dari seorang raja atau penguasa).[8]
Petrus ingin mengatakan bahwa Kristus membuat suatu
pernyataan kepada roh-roh yang sekarang terpenjara di dalam dunia orang mati. Mengenai hal tersebut, Kenneth L. Barker dan John R. Kohlenberger III juga
menambahkan:
“The
announcement is of Christ’s victory and of their doom that has come through his
death in the cross and His ressurection.” (Pemberitaan yang dilakukan oleh
Kristus adalah pemberitaan mengenai kemenangan-Nya dan penghukuman kepada roh-roh orang yang memberontak pada
zaman Nuh melalui kematian dan kebangkitan-Nya).[9]
Kristus oleh Roh Kudus memberitakan suatu peringatan melalui
mulut Nuh (bdg. 2 Petrus 2:5) kepada angkatan Nuh yang tidak taat, dan kini
berada di Hades menantikan penghakiman terakhir. John F. Walvoord dan Roy B.
Zuck mengatakan:
“This
interpretation seems to fit the general theme of this section (1 Peter
3:13-22)-keeping a good conscience in unjust persecution. Noah is presented as
an example of one who committed himself to a course of action for the sake of a
clear conscience berfore God.” (Tafsiran ini cocok dengan tema umum perikop ini
yaitu menjaga/mempertahankan kesadaran yang benar dalam penganiayaan. Nuh adalah
sebagai seseorang yang berkomitmen pada dirinya untuk memiliki kesadaran yang
benar dan jelas di hadapan Tuhan).[10]
Menurut penulis, penafsiran ini lebih cocok dengan konteks
yang berbicara tentang umat yang tidak taat dan tidak selamat pada zaman Nuh.
Penafsiran ini juga selaras dengan pernyataan Petrus bahwa Roh Kristus
berbicara di masa lalu melalui para nabi (2 Petrus 1:20-21). Argumentasi
penulis yang lain adalah ayat ini dan 4:6 tidak mengajarkan bahwa orang berdosa
yang tidak dilahirkan kembali akan mempunyai kesempatan kedua untuk menerima
keselamatan setelah mati. Setelah kematian seseorang, akan datang penghakiman (Ibrani 9:27).
Jadi maksud ayat ini adalah bahwa Kristus melalui Roh Kudus
secara serius memperingatkan orang-orang yang sezaman dengan Nuh melalui mulut
Nuh sendiri (2 Petrus 2:5 menyebutnya sebagai “pemberita kebenaran”. Perhatikan
bahwa kata “pemberita” dalam ayat ini ialah keryka,
yang mempunyai akar kata yang sama dengan ekeryxen
yang disebut di atas dalam kaitannya dengan 1 Petrus 3:19.
BANGUNAN TEOLOGI DARI 1 PETRUS 3:19
Berdasarkan pembahasan penulis di atas, penulis akan membuat
bangunan teologi berdasarkan surat 1 Petrus 3:19. Bagian ini merupakan bagian yang
paling sulit dari tulisan. David A. Case dan David W. Holdren mengatakan: “It could very well be the most difficult in
the entire New Testament: Jesus preached to the spirits in prison. (Ini
bisa menjadi bagian yang
paling sulit di seluruh Perjanjian Baru: Yesus berkhotbah kepada roh-roh dalam
penjara).”[11]
Ayat ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa ayat yang
dibahas ini meyakinkan kita bahwa bahkan pada zaman Nuh pun, Allah Anak, dalam
wujud pra inkarnasi-Nya, memperhatikan keselamatan orang-orang berdosa. Jadi
seluruh peristiwa yang dengannya keluarga Nuh diselamatkan melalui bahtera
merupakan sebuah kehadian yang bersifat sebagai nubuatan, yang menunjukkan ke
depan kepada pemeliharaan agung Allah melalui Pendamaian yang menggantikan
orang lain di kayu salib.
Kemudian sang rasul menguraikan dengan sangat jelas hubungan
lambang penggenapan ini dalam 1 Petrus 3:21, “juga kamu sekarang diselamatkan
oleh kiasannya, yaitu baptisan – maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan
jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah – oleh
kebangkitan Yesus Kristus.” Artinya, yang memberikan kelepasan kepada orang
berdosa dan yang memungkinkan dia mendapatkan “hati nurani yang baik”
berdasarkan keyakinan bahwa semua dosanya sudah lunas dibayar dengan darah
Yesus, hanyalah pertobatan dari dosa serta iman kepada Yesus untuk memperoleh
keselamatan atas dasar pendamaian dan kebangkitan-Nya.[12]
Mengingat sorotan terhadap orang-orang dari generasi Nuh
sebagai dapat disamakan dengan dunia yang terhilang pada zaman Petrus (serta
pasti setiap generasi sesudahnya), maka kita harus menyimpulkan bahwa
pernyataan yang disebut dalam ayat 19 bukan terjadi ketika Kristus turun ke
dunia orang mati sesudah kematian-Nya di Kalvari, melainkan disampaikan oleh
Roh Kudus yang berbicara melalui mulut Nuh pada tahun-tahun ketika bahtera
tersebut dibangun (ayat 20). Karena itu, ayat 19 tidak mengandung harapan apa
pun mengenai “kesempatan kedua” bagi orang-orang yang menolak Kristus ketika
mereka masih hidup di bumi. Hal ini bertentangan dengan ajaran Perjanjian Baru bahwa keselamatan
datang kepada orang-orang fasik hanya melalui iman kepada Kristus dan bahwa
penghakiman kekal adalah nasib mereka yang menolak keselamatan Allah dalam
kehidupan ini (Matius 7:13; Lukas 16:23-31; Yohanes 3:36; 17:12; Roma 2:1-3;
Filipi 1:28; 3:19; II Tesalonika 1:8-10; Ibrani 9:27-28; 10:39; Wahyu
20:11-15).
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian penulis di atas, penulis
menyimpulkan bahwa 1 Petrus 3:19 tidaklah mengajarkan kepada kita bahwa masih ada
kesempatan kedua bagi orang yang berdosa/belum bertobat/belum dilahirkan
kembali untuk menerima keselamatan setelah ia mati. Yesus Kristus tidaklah
memberitakan Injil kepada roh-roh orang yang sudah meninggal pada zaman Nuh
supaya ia dapat diselamatkan. Penafsiran yang mengatakan bahwa Yesus, setelah
kematiannya di kayu salib, turun ke dunia orang mati untuk memberitakan Injil
supaya mereka selamat adalah penafsiran yang keliru. Kalau penafsiran ini tetap
dipertahankan, tentu akan menimbulkan kontradiksi dengan beberapa bagian
Alkitab lain dalam Perjanjian Baru, khususnya Ibrani 9:27.
Dengan demikian, 1 Petrus 3:19 tidak mengandung harapan apa
pun mengenai “kesempatan kedua” bagi orang-orang yang menolak Kristus ketika
mereka masih hidup di bumi. Sehingga penginjilan terhadap orang yang sudah mati tidak memiliki dasar
Alkitabiah yang dapat dipertanggungjawabkan sama sekali.
KEPUSTAKAAN
________, Alkitab
Penuntun Hidup Berkelimpahan (Malang: Gandum Mas, 1999).
Archer, Gleason L. Encyclopedia of Bible Difficulties (Malang: Gandum Mas, 2004).
Barker Kenneth L. dan Kohlenberger III, John R. The Expositor’s Bible Commentary (Grand Rapids: Zondervan, 2009).
Case, David A. dan Holdren, David W.
A Commentary for Bible Students (Indiana:
Wesleyan Publishing House, 2006).
John F. Walvoord John F. dan Zuck Roy B. The Bible Knowledge Commentary
(Grand Rapids: Zondervan Bible Publisher, 1999).
Pfeiffer, Charles F. dan Harrison, Everett F. The Wycliffen Bible
Comentary, (Malang: Gandum Mas, 2001).
Richards, Lawrence O. Expository
Dictionary of Bible Words (Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1985).
Zuck, Roy B. A Bilblical Theology
Of The New Testament (Malang: Gandum Mas, 2011).
[1] Andreas
Samudera, Dunia Orang Mati (Bandung:
Revival Total Ministry, 1998), 48.
[2] Paul
Enns, The Moody Handbook of Theology
(Malang: Penerbit SAAT, 2008), 149.
[3] Charles
F. Pfeiffer dan Everett F. Harrison, The
Wycliffen Bible Comentary, (Malang: Gandum Mas, 2001), 1005-1006.
[4] Ibid.
[5] Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan (Malang:
Gandum Mas, 1999), 2094-2095.
[6] Lawrence
O. Richards, Expository Dictionary of
Bible Words, (Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1985), 504.
[7] Kenneth
L. Barker & John R. Kohlenberger III,
The Expositor’s Bible Commentary (Grand Rapids: Zondervan, 2009), 1054.
[8] Gleason
L. Archer, Encyclopedia of Bible
Difficulties (Malang: Penerbit Gandum Mas, 2004), 722.
[9] Ibid.
[10] John F.
Walvoord & Roy B. Zuck, The Bible
Knowledge Commentary (Grand Rapids: Zondervan Bible Publisher, 1999), 851.
[11] David A.
Case dan David W. Holdren, A Commentary
for Bible Students (Indiana: Wesleyan Publishing House, 2006), 101.
[12] Gleason
L. Archer, Encyclopedia of Bible
Difficulties, 724.
Komentar
Posting Komentar